Cari
Akses Cepat
English | فارسی | urdu | az | العربی| Ind
صفحه اصلی > اخبار 


  چاپ        ارسال به دوست

Kesembuhan seorang Mahasiswa asal Nigeria oleh Imam Ridha as

 

Banyak sekali para pemikir bebas luar Iran yang datang berkunjung ke Iran untuk menimba ilmu pengetahuan, walaupun mereka datang sebagai orang asing ke Iran dan disambut dengan asing pula setelah kembali ke negaranya masing-masing, namun ketika mereka pergi melakukan ziarah ke makam Hadhrah Maksumah as sebagai seorang yang sangat terasing, lalu kemudian menziarahi makam Imam Ridha as, mereka senang dengan keterasingannya dengan harapan suatu saat pahala tanpa batas ilahi akan mencakup keadaan dirinya.[]

 

10 hari mulia menurut mahasiswa Institut Pendidikan Tinggi Fiqh

 

Pusat berita Institut Pendidikan Tinggi Fiqh berkesempatan melakukan wawancara kepada beberapa orang mahasiswa Institut Pendidikan Tinggi Fiqh di kota suci Qom terkait 10 hari mulia.

 

Suharbul, mahasiswa asal Indonesia ketika ditanya mengenai apa pandangannya mengenai hal ini ia berkata: “10 hari mulia adalah musim semi baru untuk menguatkan kehidupan maknawi di lingkungan masyarakat, 10 hari mulia ini adalah kesempatan yang sesuai bagi kaum muslim Syi’ah untuk meningkatkan eksistensi maknawi dalam kehidupannya, demikian pula sebagai momen untuk berusaha melepaskan segala kekurangan maknawi yang dimiliki” ujarnya.

 

Ia menganggap mengenal dan mempelajari kehidupan serta perjalanan sejarah para pembesar ini adalah sangat penting dalam kehidupan, “Para wanita, khususnya putri-putri kita mesti mengenal Hadhrah Maksumah as. dan menjadikannya sebagai teladan agama dalam dunia modern ini” tambahnya.

 

Mahasiswa Institut Pendidikan Tinggi Fiqh ini menjelaskan bahwa ziarah yang selalu dilakukan khususnya 10 hari mulia ini adalah kesempatan untuk meraih taufiq dari kemuliaan Ahlul Bait as. dan itu mesti disyukuri, “Keinginan saya setiap hari adalah menziarahi makam Hadhrah Fathimah Maksumah as. di rumah pun saya selalu bertawasul kepadanya untuk menghargai dan mensyukuri kesempatan selama saya berada di Qom ini” ujarnya.

 

Seorang mahasiswi asal Indonesia lainnya mengisahkan salah satu pengalamannya ketika berada di kota suci Mashad, saat itu ia berkesempatan melakukan ziarah ke makam suci Imam Ridha as yang ada di kota itu, “Saat itu saya berkesempatan melakukan ziarah sebanyak empat kali, saya memiliki banyak hajat dan keinginan, salah satunya adalah kesembuhan saudara saya yang mengalami sakit berat, saya pun bertawasul di makam Imam Ridha as. Akhirnya Allah memberi kesembuhan kepada kakak saya” ujarnya.

 

Mahasiswa lainnya Hujjatul Islam Suratvala, Seorang mahasiswa asal India menyebutkan bahwa pada awal Zulqaidah hingga 11 Zulqaedah merupakan 10 hari mulia yang diberikan Allah kepada manusia, dua orang manusia agung telah dilahirkan pada hari-hari ini, disamping itu hari-hari ini adalah hari yang penuh kesempurnaan dan kemuliaan manusia dan merupakan momen untuk memperhatikan orang lain dan meningkatkan perhatian kepada saudara-saudara yang merupakan suri tauladan yang baik bagi manusia yang mencari kebenaran maknawi.

 

Ia menambahkan bahwa 10 hari mulia ini adalah hari-hari untuk meresapi perbandingan kecintaan antara Imam Ridha as dengan adiknya Hadhrah Fathimah Maksumah dan kecintaan Imam Husein as dengan adiknya Zainab as.

 

Kecintaan sesama saudara yang ditunjukkan oleh Imam Ridha as kepada adiknya Hadhrah Fathimah Maksumah dan kecintaan Imam Husein as kepada adiknya Zainab as. adalah kecintaan yang tiada bandingnya, “Melakukan tawasul kepada para pembesar agung ini menghantarkan manusia untuk mengamalkan ayat “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang maha mulia” karena dengan memuliakan orang lainlah seseorang akan dapat mencapai kemuliaan yang sebenarnya” ujarnya.

 

Mahasiswa yang belajar di Universitas al-Mustafa ini menambahkan bahwa dengan memahami hal inilah kita dapat memahami maksud sebenarnya hijrah Hadhrah Fathimah Maksumah as ke Iran pada waktu itu, kalimat jihad fi sabilillah dan usaha yang dilakukan untuk mempertahankan “wilayah” dalam hal ini menemukan maknanya yang sebenarnya, “Hadrah Fathimah Maksumah as adalah contoh terbaik bagi para pemudi yang hidup dalam masyarakat, dengan mempelajari sejarah perjalanan beliau akan membantu mereka untuk menemukan bagaimana menjadi seorang pemudi di tengah masyarakat, karena Hadrah Fathimah Maksumah as memiliki sisi-sisi kehidupan yang patut diteladani” tambahnya.

 

Hujjatul Islam Suratvala yang bangga dengan pendidikan yang dikecapnya di tempat yang bertetanggaan dengan salah seorang Ahlul Bait itu mengatakan: “Saya merasa sangat bangga dan bersyukur karena diberi kesempatan oleh Allah swt untuk belajar di sebuah kota dimana Imam Shadiq as pernah berkata: “Qom adalah kota kami Ahlul Bait as”, dari sisi ini saya merasa memiliki tugas yang sangat berat yaitu menyebarkan mazhab Ja’fary” ujarnya.

 

Hujjatul Islam Suratvala mengatakan: “Selama 7 tahun saya berada disini, kurang lebih sudah 50 kali saya berziarah ke makam Imam Ridha as, saya merasa mulai masuk Universitas al-Mustafa dan kemudian berkesempatan belajar disini tidak lain adalah karena bantuan Imam Ridha as dalam doa tawasul yang saya lakukan kepada Allah swt” tambahnya.

 

Mustafa Muhammad Ali, mahasiswa asal Prancis berkata bahwa falsafah 10 hari mulia dan kelahiran dua cahaya agung adalah kesempatan untuk membentuk kepribadian maknawi kebersamaan dalam diri, “Urgensitas menziarahi makam Hadhrah Fathimah Maksumah dapat dikenali melalui salah satu ucapan Imam Shadiq as: “Barang siapa menziarahinya dengan mengetahui hak-hak yang semestinya menjadi haknya, maka wajib kepadanya surga Allah”, ini pula menurut saya yang menjadi sebab mengapa kota Qom merupakan tempat yang aman dan berkumpulnya mujtahid dan para maraji’ dari kalangan Syi’ah sejak dahulu” ujarnya.

 

Ia menambahkan: “Sesuai dengan riwayat, menziarahi makam Imam Husein as juga memiliki pahala yang sama dengan melakukan seribukali haji, dan dari sisi lain terdapat suatu riwayat dari Imam Jawad as yang menyebutkan: “Sesiapa yang menemani kesendirian ayahku, maka menziarahinya lebih baik daripada menziarahi makam penghulu para Syuhada” dari dua riwayat ini kita dapat lebih mengenal keutamaan dan pahala manusia agung yang lahir pada 11 Zul qaidah ini” ujarnya.

 

Mahasiswa Prancis ini menambahkan Hadhrah Fathimah Maksumah adalah teladan yang tidak tertandingi dalam hal ketaqwaan di lingkungan para keturunan nabi, karena itu beliau dapat menjadi teladan yang sesuai bagi para wanita yang rela mengorbankan apapun yang mereka miliki demi “wilayah” kepada Ahlul Bait as.

 

Mustafa Muhammad Ali mengatakan bahwa kehadirannya di kota suci Qom adalah salah satu harapannya sejak lama ketika ia masih berada di Paris, “Saya memiliki beberapa bait puisi tentang Hadrah Fathimah Maksumah as jika berkenan”:

 

Qom adalah surga haram

Salam sejahtera bagimu hai kota kebaikan

Hamparan cermin tempatku melihat

Kubah cahayanya adalah perhatianku

Disetiap sudutnya adalah kecintaan

Haramnya adalah pembakar api kecintaan

Kecintaan adalah hasil ucapan sang Mustafa

Dari kekasihnya Ali al Murtadha

Qom adalah rumah bagi para pencinta

Itu adalah ucapan masyarakat

Para pencinta adalah yang takut kepada Allah

Dari terpisahnya dari keluarga Mustafa

 

Mahasiswa Institut Pendidikan Tinggi Fiqh ini mengaku telah melakukan ziarah ke makam Imam Ridha as di Mashad sebanyak 6 kali, “Ketika dari jauh saya melihat kubahnya, rasanya seperti ada kenikmatan tersendiri yang tidak dapat diungkapkan, saya merasakan ada sesuatu yang baru dalam diri saya, selanjutnya saya sampaikan salam dari keluarga saya yang sangat berjauhan kepada pemilik menara itu” tambahnya.

   

Mahasiswa lainnya asal Nigeria, Ibrahim Isa mengisyaratkan pentingnya memohon ampunan dan kasih sayang dari Allah swt. Ia mengatakan: “10 hari mulia adalah kesempatan untuk kita untuk memohon ampunan dan maghfirah dari Allah, dan kita berharap melalui wasilah perantara dua orang agung yang lahir dalam 10 hari ini, Allah memberi kesempatan baru kepada kita untuk memperbaiki diri” ujarnya.

 

Ia menambahkan Hadhrah Fathimah Maksumah as adalah pelanjut perjalanan sejarah nenek beliau Sayyidah Fathimah Zahra as, “Hadrah Fathimah Maksumah mempelajari Ibadah, taqwa, dan pengorbanan mempertahankan Imamah, dan “wilayah” dari nenek beliau dimana kekhususan ruhani ini selanjutnya menjadi model sikap dan prilaku bagi para wanita masyarakat Islam saat ini” tambahnya.

 

Mahasiswa Nigeria ini ketika memperhatikan kubah emas makam Imam Ridha as saat menziarahinya berkata: “Saya hanya mampu bersyukur kepada Allah swt karena telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menziarahi Iran serta menziarahi makam yang penuh cahaya  Imam Ridha as, saya berharap syukur ini dapat menghantarkan saya untuk memiliki kekuatan dalam menyampaikan agama dan mazhab beliau di Nigeria” katanya.

 

Diakhir wawancara ia menceritakan pengalamannya: “Setelah tahun 1379 saya datang mengunjungi Iran, saat itu saya memiliki penyakit yang sangat berat, demikian beratnya sehingga dokter-dokter yang saya temui telah putus asa untuk mengobati saya, namun hanya seorang dokter bernama Ali bin Musa Ar-Ridha as yang tidak menolak saya dan kemudian mengobati saya tanpa obat” katanya mengakhiri.[]

 


١١:٢٣ - 1392/12/24    /    شماره : ٤٦٧٤٦    /    تعداد نمایش : ٣٩٠


نظرات بینندگان
این خبر فاقد نظر می باشد
نظر شما
نام :
ایمیل : 
*نظرات :
متن تصویر:
 





visit of this month: 2062 Today visit: 4 Total visit:21884 Loading time: 1/3594
all Rights Reserved