Cari
Akses Cepat
English | فارسی | urdu | az | العربی| Ind
صفحه اصلی > اخبار 


  چاپ        ارسال به دوست

Dosen Hauzah: “Islam menemui maknanya yang asli dalam pemerintahan”

 

Islam tidak bertentangan dengan pemerintahan, bahkan menemui maknanya dengan pemerintahan.

 

Berdasarkan laporan pusat berita Institut Pendidikan Tinggi Fiqh Universitas al-Mustafa, Hujjatul Islam wal Muslimin Hasan Irfan pada acara memperingati hari syahidnya Imam Ja’far Shadiq as yang diselenggarakan oleh kantor bidang kebudayaan dan kesenian Institut Pendidikan Tinggi Fiqh di Mesjid Institut ini mengisyaratkan tentang berpemerintahan dalam tradisi para nabi, beliau menyebutkan: “Nabi Daud as, Nabi Yusuf as, Nabi Daniel as, Nabi Sulaiman as, dan Nabi besar Muhammad saww, adalah diantara para Nabi Allah yang memiliki pemerintahan dan pemimpin dalam masyarakatnya” ujarnya.

 

Ia menambahkan: “Imam Ali as, Imam Hasan al-Mujtaba as, mereka memiliki pemerintahan pada masanya, demikian pula dengan yang mulia Baqiyatullah al-A’dham juga memiliki pemerintahan, permasalahan ini menetapkan bahwa Islam tidak bertentangan dengan pemerintahan, bahkan Islam menemukan maknanya dalam pemerintahan”.

 

Pemerintahan politik Imam Khomeini qs. dan Khaujah Nashiruddin at-Thusi

 

Dosen Hauzah ini juga mengisyaratkan tentang ikatan antara agama dan politik, beliau berkata: “Ketika kita menelisik kembali sejarah Islam kita akan menemukan bahwa Imam Khomeini qs telah mendirikan pemerintahan politik pada masanya, ini adalah contoh nyata lagi membanggakan dalam peradaban Islam dan dunia perpolitikan” ujarnya.

 

Beliau juga menjelaskan bagaimana pengaruh Khaujah Nashiruddin at-Thusi pada masa pemerintahan Hulago Khan dari kerajaan Mongol, “Ulama ini berdasarkan pengaruh Syi’ah dengan memanfaatkan kedudukannya sebagai mentri dalam pemerintahan yang kuat, telah menyebabkan tersebarnya Islam yang murni pada masanya, begitu pula penemuan-penemuan penting ilmu pengetahuan yang dicapai pada masanya, sedemikian rupa sehingga Syi’ah yang muncul setelah masanya adalah Syi’ah yang menjadikan beliau sebagai panutan”.

 

Metode politik Imam Shadiq as ketika berhadapan dengan Mansur Dawaniqi

 

Peneliti Hauzah ini juga mengisyaratkan metode politik yang dilakukan Imam Ja’far Shadiq as ketika berhadapan dengan pemerintah, “Sesuai dengan keadaan yang ada pada masa kesultanan Islam, Imam Shadiq as mengunakan metode yang menyingkirkan dirinya dari perpolitikan sehingga dengan jalan yang ditempuh beliau ini perang melawan pemerintahan hanya tinggal menunggu waktu dalam perencanaan beliau” tambah beliau.

 

Dosen Institut Pendidikan Tinggi Fiqh ini melanjutkan: “Imam Shadiq as selalu memanfaatkan kesempatan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa Mansur Dawaniqi tidak memiliki kesesuaian untuk memimpin pemerintahan Islam, dan masyarakat pun akhirnya terjaga melalui metode yang dilakukan Imam Shadiq as ini” papar beliau.

 

Penyebab terbelakangnya umat Islam sebelum masa Imam Baqir dan Imam Shadiq as

 

Hujjatul Islam wal Muslimin Irfan menegaskan bahwa sebelum masa Imam Baqir dan Imam Shadiq as, dunia Islam telah terperosok dalam lembah kebekuan pemikiran dan ilmu pengetahuan yang sangat memprihatinkan, demikian memprihatikannya saat itu sehingga Ibnu Abbas pernah berkata: “Masyarakat Islam waktu itu saat kutanya apa itu zakat fitrah? Bahkan seorang pun tidak mengetahui jawaban pertanyaan sederhana ini”.

 

Beliau menjelaskan bahwa akar kebodohan ummat saat itu dapat dikatakan karena dilarangnya penukilan hadis setelah wafat Nabi Muhammad saww, “Pada masa Amirul Mukminin Ali as masyarakat juga berdasarkan paksaan yang selalu disebutkan beliau “Bertanyalah kepadaku sebelum kamu kehilangan aku” selalu mendorong mereka untuk menemukan ilmu pengetahuan dan mengembangkannya, namun hal itu tidak juga mendorong mereka, sehingga mereka mengutus Imam Ali as untuk mencangkul dan bertani, dan pemerintahan pun dipisahkan dari beliau”.

 

Dosen peneliti  Hauzah ini juga mengisyaratkan riwayat dalam Nahjul Balaghah yang menceritakan 4 tahun masa pemerintahan Amirul Mukminan Ali as, “Secara biasa, Imam maksum kita memerlukan waktu 400 tahun untuk menerapkan pemerintahan sejati dan mengembangkan ilmu pengetahuan pada masyarakat, namun para pemimpin saat itu dengan memanfaatkan kebodohan masyarakat malah membunuh para Imam as itu, sehingga umur masa pemerintahan manusia agung ini hanya mencapai 250 tahun” tutupnya.

 


١١:٣٣ - 1392/12/24    /    شماره : ٤٦٧٤٨    /    تعداد نمایش : ٢٥٥


نظرات بینندگان
این خبر فاقد نظر می باشد
نظر شما
نام :
ایمیل : 
*نظرات :
متن تصویر:
 





visit of this month: 2065 Today visit: 17 Total visit:21897 Loading time: 1/4531
all Rights Reserved