Cari
Akses Cepat
English | فارسی | urdu | az | العربی| Ind
صفحه اصلی > اخبار 


  چاپ        ارسال به دوست

Mahasiswa non Iran menegaskan: “Tidak adanya satu kepemimpinan yang terpercaya, adalah akar perpecahan di Mesir”

 

Kriminalitas dan pembunuhan yang akhir-akhir ini terjadi di Mesir adalah sebuah alasan untuk menghindari solusi dialog, terkait hal ini tim berkesempatan melakukan wawancara terhadap beberapa mahasiswa non Iran di kota Qom untuk mengetahui pendapat mereka tentang keadaan terakhir mengenai situasi terkini di Mesir.

 

Hujjatul Islam Tahsin badri, mahasiswa asal Iraq mengisyaratkan tentang kedudukan ekonomi, politik dan sosial yang hanya terbatas pada perseorangan di Negara-negara arab, ia berkata: “Mesir adalah negara yang memiliki berbagai universitas terkenal seperti al-Azhar dan Universitas Jamiatud Dual al-Arabiya yang merupakan pusat pendidikan Ahlussunnah terkenal di negri arab, hal ini tentu menunjukkan pengaruh yang besar dalam pergolakan pemikiran Negara-negara arab”.

 

“Tokoh-tokoh terkenal seperti Gamal Abdul Naser - pemimpin revolusi mesir, al-Baradey – ketua organisasi nuklir internasional IAEA, dan pemimpin lainnya dari Ikhwanul Muslimin, merupakan pemimpin-pemimpin yang memiliki kedudukan di mata masyarakat arab di timur tengah”

 

“Namun setelah jatuhnya rezim Husni Mubarak, saat itu masyarakat Mesir baru saja memasuki era demokrasi, mereka belum belajar bagaimana bekerjasama antara sesama kelompok di Negara ini, sehingga akhirnya setiap kelompok dan golongan mementingkan kelompok dan golongannya masing-masing dalam urusan politik”.

 

Lebih lanjut mahasiswa Institut Pendidikan Tinggi Fiqh ini berkata: “Golongan pro Islam dan dan sekular telah membawa Mesir ke jurang politik yang dalam, Golongan Islam akhirnya berhadap-hadapan dengan golongan sekular yang mendapat bantuan keuangan besar dari Negara-negara barat dan juga orang-orang kaya arab, karena itu tentara sebagaimana yang kita lihat dapat berkuasa di Mesir” ujarnya.

 

Tahsin Badri berpendapat bahwa Mesir adalah tanah berbagai peradaban dan tempat bergolaknya berbagai pemikiran, “Hal itu dapat kita lihat sejak penjajah Prancis menguasainya, mereka memasukkan pemikiran sekular ke Negara itu yang sebelumnya memiliki ruang tradisional Islami, sehingga pada akhirnya merubah Negara ini menjadi pusat tersebarnya pemikiran yang bukan Islam ke Negara-negara arab, hasil dari pergerakan ini adalah munculnya penulis-penulis yang banyak dari peristiwa ini” tambahnya.

 

Mahasiswa asal Iraq ini di akhir wawancara menyebutkan bahwa kekacauan kepemimpinan yang terjadi di Mesir saat ini bukan hanya kekacauan yang terjadi di mesir saja, melainkan menunjukkan kekacauan yang terjadi di Negara-negara arab saat ini, “Rakyat Mesir sebaiknya menahan diri, menjauhkan diri dari penyerangan menggunakan senjata, serta melakukan dialog yang menguntungkan semua pihak, mereka harus yakin bahwa Islam adalah masa depan Negara Mesir” tutupnya.

 

Mahasiswa lainnya Rahman Dahlan asal Indonesia berpendapat bahwa ribuan orang yang terbunuh dan luka-luka, pembakaran mesjid dan rumah sakit, semua ini adalah wujud dari kebengisan tentara Mesir, “Negara-negara seperti Amerika serikat dan Arab Saudi adalah penanggung jawab sebagai pemantik api perpecahan ini yang menimpa rakyat tak berdosa di Mesir” paparnya.

 

Ia berpendapat, ketiadaan pemimpin yang dapat menyatukan semua pihak adalah alasan utama yang menyebabkan perselisihan di Negara ini, “Walaupun Ikhwanul Muslimin kehilangan kekuasaan karena kudeta yang dilakukan militer Mesir, namun dengan cara demonstasi yang dilakukan oleh rakyat Mesir saat ini, tidak akan menambah kecuali penderitaan kepada mereka, saya berharap Ikhwanul Muslimin mengutamakan solusi damai dengan cara dialog di Negara ini” harapnya.

 

Mahasiswa yang belajar di Institut Pendidikan Tinggi Fiqh ini mengisyaratkan tentang dukungan Negara-negara Islam atas permasalahan yang menimpa Ikhwanul Muslimin, ia mengatakan: “Para pemimpin Negara-negara Islam mestinya memperhatikan jika demokrasi tidak dijalankan secara nyata dan adil diantara masyarakat di Negara-negaranya, maka kedepan tidak ada peristiwa yang lebih baik yang akan terjadi di negaranya melainkan seperti yang terjadi di Mesir saat ini” tambahnya.

 

Mahasiswa lainnya Husein al-Yusuf asal Suriah berpendapat peran besar Israel dan Amerika dalam mewujudkan kekacauan di Mesir  adalah nyata,  “Salah satu tujuan utama mereka adalah menghidupkan api perpecahan dan perselisihan  di Mesir, melalaikan mereka dari pemikiran utama dunia saat ini tentang bagaimana kekejaman yang berlaku di Palestina dan Suriah” katanya.

 

Ia mengatakan bahwa Wilayatul Faqih adalah salah satu nikmat terbesar yang dimiliki Negara Islam Iran, “Ulama Mesir mestinya memainkan peranan mereka sebagai pemimpin dalam perang melawan perpecahan serta menyadarkan rakyat Mesir mengenai musuh utama mereka, namun sayangnya mereka melupakan tugas ini” ujarnya.

 

Mahasiswa Institut Pendidikan Tinggi Fiqh asal Suriah ini menambahkan: “Saya merasa terluka dengan perpecahan yang terjadi di Mesir, saya memahami bagaimana kondisi Mesir sekarang ini, kami memberi gelar “Ibu Dunia” kepada Mesir, sebagai Negara yang menjadi teladan bagi Negara arab lainnya, saya berharap akan ada upaya untuk menyatukan semua kepentingan melalui kerjasama sesame golongan satu sama lain, sehingga mereka dapat menemukan jalan keluar dari permasalahan yang menimpa mereka kini” katanya.

 

Husein al-Yusuf dengan mengisyaratkan bahwa Mesir dan Israel adalah dua Negara yang berbatasan langsung mengatakan: “Israel yang punya pengalaman pahit pada masa Gamal Abdul Naser sedang berusaha melenyapkan keinginan untuk mendirikan Negara Islam berbagai bangsa yang berdasarkan kebangkitan Islam, karena itu kecermatan dan kecerdasan masyarakat dalam melihat hal ini sangat diperlukan” tambahnya.

Mahasiswa Institut Pendidikan Tinggi Fiqh beranggapan bahwa Mesir adalah salah satu pusat perlawanan terhadap Israel di kawasan, karena itu ia menekankan: “Jika rezim yang menguasai Mesir adalah sama seperti rezim yang terdahulu, maka ini akan memberi pengaruh langsung kepada Negara-negara tetangga seperti Suriah dan semua Negara-negara ini hanya akan menjadi kenangan” tukasnya.

 

Mahasiswa lainnya Muhammad Nur Alam asal Bangladesh ketika mengisyaratkan kondisi terakhir di Mesir berkata: “Hanya rakyat Mesir yang dapat mengetahui apa yang mesti mereka lakukan untuk masa depan Mesir, kebangkitan yang terjadi di Mesir memiliki pengalaman yang panjang, namun apa yang terjadi di Mesir saat ini bukanlah cerminan bangsa tua ini”.

 

Ia menambahkan: “Ada Israel dan negara-negara barat yang berdiri dibelakang tirai semua perpecahan ini, tujuan mereka adalah menimbulkan fitnah dalam pemerintahan ini”.

 

Mahasiswa Institut Pendidikan Tinggi Fiqh ini juga mengisyaratkan tentang peranan PBB ketika berhadapan dengan kudeta yang dilakukan Negara-negara dunia mengatakan: “Berdasarkan apa yang terjadi ini, PBB mestinya memutuskan bantuan keuangan kepada militer Mesir, namun kita malah menyaksikan bantuan keuangan Negara-negara barat itu mendapat dukungan yang menunjukkan adanya lampu hijau atas kudeta yang terjadi di Mesir oleh PBB” tambahnya.

 

Ia juga menambahkan bahwa pergerakan yang dilakukan Ikhwanul Muslimin serta dilarangnya segala aktifitas mereka adalah tindakan politis yang akan terus menambah angka pembunuhan di Negara ini, tentara Mesir seharusnya tidak dibenarkan ikut campur dalam urusan politik Negara ini, Karena berdasarkan kebiasaan yang dilakukan di tiap Negara, permasalahan politik hanya dapat diselesaikan oleh para politikus Negara itu.

 

Muhammad Nur Alam juga menambahkan bahwa mementingkan kepentingan golongan diatas kepentingan Negara adalah akar utama perpecahan di suatu Negara, “Api yang menyala di Mesir saat ini akan dapat juga mempengaruhi Negara-negara lain seperti Yordania, Libiya, Suriah, dan Lebanon, hal ini karena pergolakan yang terjadi di Mesir adalah tindakan yang dihembuskan oleh Zionis, Amerika dan Negara-negara barat di kawasan demi kepentingan mereka di Negara-negara Islam menjadi lebih kuat.

 

Ia juga tidak menafikan pengaruh mufti-mufti Ahlussunnah dan al-Azhar yang tidak dapat dibandingkan dengan mufti dan ulama marja’ Syi’ah, “Saat ini mufti al-Azhar telah berubah menjadi mufti Negara, dana budget mereka disediakan dari Negara, dan ini menjadi bukti tidak independennya peranan mereka dalam masyarakat” tegasnya.

 

Mahasiswa ini juga mengisyaratkan ikut berduka atas derita yang menimpa rakyat Mesir, ia berkata: “Rakyat Mesir sendirilah yang mesti mengenal siapa musuh mereka sebenarnya, mereka sendiri pula yang mesti merubah keadaan mereka supaya tidak sampai seperti Suriah, mereka selayaknya sadar bahwa darah yang tumpah dari para korban di Mesir semuanya bertujuan sama yaitu demi membangun kemajuan Mesir itu sendiri” tutupnya.[]

  


١١:٣٤ - 1392/12/24    /    شماره : ٤٦٧٤٩    /    تعداد نمایش : ٤١١


نظرات بینندگان
این خبر فاقد نظر می باشد
نظر شما
نام :
ایمیل : 
*نظرات :
متن تصویر:
 





visit of this month: 2064 Today visit: 14 Total visit:21894 Loading time: 1/4531
all Rights Reserved